Pemimpin Baru di Negeri Pengangguran

Pemimpin Baru di Negeri Pengangguran

Pemimpin Baru di Negeri Pengangguran

Tubuh kita adalah susunan dari beberapa anggota tubuh dan unsur-unsur pembngun lainnya. Banyak orang menilai dan mengumpamakan organisasi dengan tubuh kita, dimana kepala sebagai pemimpin dari anggota tubuh lainnya.

Peristiwa lengsernya Soeharto dari kepemimpinannya, merupakan sebuah cermin bahwa wujud seorang pemimpin sangat di butuhkan dalam menjalani kehidupan. Bayangkn saja jika kita hidup tanpa pemimpin dan kepemimpinan. Semua hal akan amburadul dan tak terkonsep. Seperti tubuh tanpa kepala. Tidak ada koordinasi diantara semua pihak yang akan menyebabkan pertikaian jika sedikit saja ada kesalahpahaman.

Pemimpin adalah tolak ukur bagaimana keadaan masyarakat yang dipimpin. Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, seorang pemimpin harus mempunyai inovasi-inovasi baru yang disertai tanggung jawab serta memperhatikan keadaan masyarakat yang dipimpin. Sebagai pemimpin juga sebuah keharusan untuk selalu tampil dibarisan terdepan dalam menghadapi masalah-masalah yang menerpa diri, Negara dan rakyatnya.

Indonesia sebagai Negara demokrasi, baru saja selesai menghitung perolehan suara pemilihan umum (PEMILU) anggota Legislatif yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Para pejabat Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat ini tengah bersiap-siap menyongsong pemilihan pemimpin baru Negara ini, Juli mendatang dalam pilihan presiden (PILPRES). Sangat maklum sekali jika halaman media massa, eletronik maupun non-eletronik selalu menyajikan info terbaru bagaimana langkah-langkah calon pemimpin kita. Baik dengan mencari dan menjadi partai koalisi atau menjadi partai oposisi. Seperti yang termuat dalam Koran harian Jawa Pos satu minggu terakhir.

Pasangan calon Presiden (Capres) dan calon Wakil Presiden (Cawapres) ideal dan potensial pada pilpres 2014 menurut Survey Founding Fathers House 5 Mei 2014. Capres Jokowi bersanding dengan Dahlan Iskan 41.83%, Jokowi-Jusuf Kalla 40.73%, Jokowi-Mahfiudz MD. 40.55%, Jokowi-Hidayat NW. 37,43%, Jokowi-Hatta Rajasa 35,04%, Jokowi-Suryadarma Ali 31,83%, Jokowi-Ryamizard 30,09%. Sementara Capres Prabowo bersanding dengan mahfudz MD 30,81%, Prabowo-Dahlan Iskan 29,81%, Prabowo-Jusuf Kalla 28,07%, Prabowo-Hidayat NW. 25,68%, Prabowo-Hatta Rajasa 23,11%, Prabowo-Pramono E 21,00%, Prabowo-SDA 18,99%.

Sementara pembesar negeri sibuk mencari calon Presiden Indonesia, Badan Pusat Statistic (BPS) memperkirakan jumlah total penduduk Indonesia adalah sekira 237 juta jiwa. Dari total tersebut BPS juga mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,4 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 6,25 persen.

Mungkin kita sedikit mengerutkan dahi membaca dan mendengar kenyataan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia masih tinggi. Negeri yang mulai di sebut-sebut sebagai negeri peradaban pertama di dunia. Dengan bumi subur menghampar, kekayaan laut membentang, tambang minyak, dan tambang emas. Rakyat Indonesia masih menjadi pengangguran kelaparan. Bagai tikus mati di lumbung padi.

Sepanjang sejarah kepemimpinan Indonesia, tidak ada satu pemimpin yang bisa mengentas angka pengangguran. Malah pengangguran di Indonesia semakin menjamur. Angka kemiskinan tak kunjung menunjukkan angka bahagia. Akhirnya, bekerja di luar negeripun menjadi pilihan alternatif ketika di negeri sendiri tak mendapat pekerjaan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Novariyanti Yusuf menyatakan meski bekerja menjadi TKI ke luar negeri bukan pilihan terbaik tetapi karena tingginya angka tenaga kerja produktif serta minimnya lapangan kerja di dalam negeri, bekerja di luar negeri merupakan salah satu solusi mengatasi pengangguran.

Bekerja diluar negeri seperti angin segar bagi para pengangguran. Di negeri orang mereka bisa mendapatkan uang dengan nominal lebih banyak daripada yang mereka dapat di negeri sendiri dengan pekerjaan sama. Bekerja sebagai kuli bangunan di Indonesia, berbeda jauh upah yang didapat dengan menjadi kuli bangunan di Malaysia. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa semakin banyak TKI yang dikirim maka semakin banyak pula kasus nyeleweng antara majikan dan pembantu. Sudah lebih dari tiga kali warga Indonesia menjadi tawanan hukum gantung dengan biaya tebusan melangit di Arab Saudi.

Banyak hal yang harus menjadi titik tekan pemerintah baru, apalagi dengan berita penutupan pabrik rokok sebab tingginya cukai tembakau dan merosotnya angka penjualan lintingan rokok. Sekitar empat ribu lebih karyawan harus dirumahkan dan tentu menambah jumlah pengangguran di negeri ini. Walaupun para buruh pabrik rokok tersebut dibekali uang pesangon dan diberikan pelatihan sebelum dirumahkan agar bisa hidup membangun usaha dengan keterampilan yang ia miliki.

Juli sudah semakin dekat, pemilihan Presiden sebagai pemimpin kita lima tahun mendatang akan digelar. Pemimpin baru akan hadir di tengah-tengah rakyat. Bagi saya yang tidak tahu menahu dunia politik Indonesia saat ini. Apalagi untuk memprediksi pemenang dari sekian banyak calon Presiden yang diusung. Saya hanya berharap semoga pemimpin baru menjadi penggerak perubahan untuk Indonesia lebih baik lima tahun menjelang. Siapapun yang terpilih nanti. Saya hanya akan berucap “Selamat datang pemimpin baru di negeri pengangguran”. Banyak pekerjaan rumah menanti anda.

Syafiqiyah Adhimiy
Pegiat Lembaga Kajian dan Konsultasi Hukum
Fakultas Syariah Institut Agama Islam Nurul Jadid

Suami Betah di Rumah 600




loading...