Cinta dan Konflik yang Mengharu-Biru

Cinta dan Konflik yang Mengharu-Biru

Akhir-akhir ini, novel teenlit menjadi incaran para remaja. Secara emosional, novel semacam ini lebih menyentuh batin pembaca. Kebanyakan, tema yang diangkat merupakan tema cinta dengan latar kampus atau sekolah. Bahasa dialognya menggunakan bahasa gaul ala remaja. Bahkan, bahasa yang digunakan lebih dinamis dari pada bahasa yang digunakan dalam acara formal.

Vindy Putri, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember menulis novel Pelukan yang Tak Lagi Ada. Novel ini menggambarkan secara detail kisah cinta remaja dengan berbagai konflik. Masa remaja merupakan masa yang sangat indah. Masa ini menjadi indah karena merupakan masa awal mengenal cinta. Namun, jika seorang remaja tidak bisa menjaga diri, ia bisa terjerumus dalam perilaku yang amoral.

Vindy Putri menjadikan tokoh Lintang sebagai tokoh utama. Lintang termasuk orang yang gagal dalam menjalin cinta. Sudah empat kali ini menjalin cinta dengan seorang cowok. Pertama, ia menjalin hubungan asmara dengan Vino. Namun, hubungan tersebut tidak langgeng. Mereka terpaksa putus. Pasca putus dari Vino, Lintang menjalin hubungan dengan Yohan, Angga, dan Anan. Tetapi, kehadiran mereka tidak bisa menggantikan sosok Vino di dalam hatinya. Hubungan Lintang dengan ketiga cowok pasca berpisahnya dengan Vino tidak berlangsung dengan baik. Lintang masih saja mengaitkan mereka dengan sosok Vino.

Dulu, ketika berpacaran dengan Yohan, hubungan mereka tak berlangsung lama. Hanya hitungan minggu. Alasan Yohan hampir sama dengan Anan. Justru lebih parah. Lintang selalu saja salah menyebut nama. Ia mengajak Yohan ke tempat-tempat yang sering didatanginya ketika bersama Vino. Terkadang, mereka bertengkar gara-gara Lintang masih membuka-buka kenangan tentang Vino. Yohan merasa tidak dianggap (hal. 16).

Angga dan Anan juga memiliki nasib yang sama dengan Yohan. Mereka harus kecewa karena Lintang masih mencintai Vino. Angga—pacar ketiganya adalah seorang vokalis band indie. Salah satu program acara tahunan di Malang membuat mereka akhirnya bertemu. Pada saat itu, ada kolaborasi spontan di atas panggung. Pembawa acara mengadakan permainan yang mengharuskan kedua band harus bernyanyi bersama-sama. Setelah itu, mereka terus menjalin hubungan asmara. Sayangnya, Lintang lagi-lagi menyebut nama Vino.

Bagi Lintang, Vino seperti malaikat yang sengaja turun untuk mengobati setiap luka lara di hati. Ia tidak mau berganti ke lain hati. Dalam hati Lintang, Vino merupakan satu-satunya cowok yang akan menjadi pendamping setia. Lebih dari itu, sosok Vino merupakan sosok yang akan membahagiakan hidupnya.

Nasib Lintang ternyata kurang baik. Lintang berhadapan dengan beberapa masalah. Yang lebih menggoncang hati dan perasaannya adalah perceraian kedua orang tuanya. Lintang memilih tinggal bersama papanya. Nunik, sahabat Lintang selalu menjadi tempat berkeluh kesah sebagai tempat peraduan Lintang. Nunik selalu berharap agar Lintang bisa melupakan Vino karena sudah tiga tahun lamanya dia juga belum bisa melupakan Vino, yang mengakibatkan hidupnya terkatung-katung dipenuhi dengan penantian yang tak menentu (hlm. 49).

Cinta Lintang kepada Vino kembali bersemi ketika mereka kembali bertemu di Malang. Hal ini membuat Lintang sedikit melupaan konflik yang mendera batinnnya. Lintang berusaha membujuk Vino agar kembali seperti yang dulu; menjalin hubungan asmara yang sempat terputus hingga beberapa tahun. Lintang tinggal mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan keinginannya itu. Bahkan, Lintang juga bercerita kepada Vino terkait kondisi ayah dan ibunya yang bercerai dua tahun yang lalu.

Novel setebal 208 halaman ini sarat dengan konflik; baik konflik antara Lintang dengan Vino, Lintang dengan Yohan, Lintang dengan Angga, atau konflik Lintang dengan Anan. Bahkan, konflik batin yang mendera Lintang akibat perceraian kedua orang tuanya membuat dirinya nyaris tidak mampu bersabar. Berkat konflik inilah, novel ini memunculkan kesan bahwa cerita di dalamnya merupakan kisah nyata penulisnya. Padahal, novel ini adalah fiktif belaka.

Resensor: Ainiyah Mundzir

Pelukan yang Tak Lagi Ada
Data Buku

Judul Buku : Pelukan yang Tak Lagi Ada
Penulis : Vindy Putri
Penerbit : Senja, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Januari2014
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978602-2554448

Ainiyah Mundzir adalah alumnus Pondok Pesantren Ar-Rahman,
Desa Lembung Kec. Lenteng Kab. Sumenep Madura.
Kini ia menjadi tenaga pengajar di Taman Kanak-Kanak Nurul Jadid
Talaga Ganding Sumenep.

Suami Betah di Rumah 600




loading...