Jangan Main-Main Dengan Kesehatan

Jangan Main-Main Dengan Kesehatan

Dalam catatan Wikipedia, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan merupakan suatu kekayaan yang tak ternilai harganya. Sedangkan harta menduduki posisi di bawahnya. Namun, tak semua orang menyadarinya. Kesehatan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sepele.

Kesehatan menjadi sesuatu yang sangat berharga apabila seseorang didera rasa sakit. Bayangkan, seorang pasien terkadang harus mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk mengembalikan kondisi kesehatan tubuhnya. Tidak hanya itu, nikmat hidup seorang pasien menjadi berkurang. Ia tidak memiliki selera mengerjakan apa saja.

Dalam buku Pembajak Kesehatan ini, dr. Yusuf Alam Romadhon, M. Kes. menjelaskan secata detil seputar penyakit dan cara mengatasinya. Setidaknya, ada empat faktor yang saling berinteraksi secara dinamis penyebab munculnya penyakit, yaitu faktor genetik (bawaan), faktor agen penyakit, faktor perilaku, dan faktor lingkungan (hal. 12-13).

Seseorang yang memiliki kepedulian yang besar terhadap kondisi tubuhnya akan memeriksakan diri kondisi kesehatannya. Ia akan berusaha memeriksa kondisi kesehatan yang merupakan bawaan dari dalam dirinya dan berusaha mengetahui faktor penyebab yang dapat memengaruhi kondisi kesehatannya. Ini adalah langkah awal untuk mengetahui ‘pembajak’ kesehatan yang menggerogoti organ tubuh.

Hal yang bisa memengaruhi kesehatan tubuh adalah marah. Beberapa hari yang lalu, sebuah televisi swasta menayangkan aparat pemerintah memarahi bawahannya. Wajahnya terlihat tegang. Suaranya lebih nyaring dari biasanya. Semua bawahannya tertunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Pemberitaan tersebut merupakan bukti konkret bahwa sifat marah tidak hanya dilakukan orang awam. Wali kota, wakil wali kota, hingga presiden pernah marah kepada bawahannya. Ironisnya, ini terjadi di hadapan publik. Mereka belum mampu mengelola emosinya dengan baik. Apakah tak ada cara lain untuk menegur bawahannya selain marah?

Daniel Goleman dalam Emotional Intelegence mengisahkan penelitian pakar emosi wajah dan otot-otot wajah yang terlibat, Paul Ekman dan koleganya, yang mempraktikkan ekspresi wajah marah selama beberapa menit. Yang mengherankan, setelah mempraktikkan ekspresi marah, mereka merasa berdebar-debar, leher tegang, dan tekanan darah meningkat (hal. 143-144).

Seorang pejabat memarahi bawahannya merupakan hal yang wajar. Tetapi, menegur dengan cara yang halus lebih menyehatkan terhadap kondisi tubuh. Emosi seseorang kadang tidak terkontrol ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ini merupakan tantangan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya, Outlier menceritakan, pada tahun 1960-an, sebuah komunitas di Amerika serikat menunjukkan angka kesehatan yang prima dibandingkan komunitas kota di seluruh negara bagian lainnya. Komunitas tersebut adalah sebuah kota kecil, Roseto, yang terletak di sebuah perbukitan Pensylvania. Sebagian besar warganya berasal dari Italia.

Yang menarik, dibandingkan dengan komunitas-komunitas lain di Amerika, angka kejadian penyakit jantung koroner di Roseta sangatlah rendah. Ternyata, kota ini sangat relegius. Budaya egaliter sangat mewarnai interaksi sosial antarwarganya (hal. 224-225).

Cerita di atas bukan sekedar kisah pengantar tidur. Terdapat ibrah yang harus dijadikan pedoman dalam melangkah. Hingga saat ini, budaya egaliter di Indonesia belum menjadi bagian penting dalam perilaku sehari-hari. Seorang bawahan harus ‘takluk’ kepada atasannya. Jika tidak, jabatan orang tersebut yang akan menjadi taruhannya.

Buku ini membuka pengetahuan pembaca betapa pentingnya menjaga kesehatan. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana. Siapapun bisa mencerna pesan yang akan disampaikan penulis terhadap pembaca. Sebelum mengeluarkan uang ratusan juta rupiah, alangkah baiknya kita membaca buku ini.

Resensor: Suhairi Rachmad

Pembajak Kesehatan
Judul Buku: Pembajak Kesehatan
Penulis: dr. Yusuf Alam Romadhon, M. Kes.
Penerbit: Metagraf, Solo
Cetakan: Pertama, Januari 2014
Tebal: xviii + 246 halaman
ISBN: 978-602-9212-91-4

Suhairi Rachmad adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana
Universitas Muhammadiyah Surabaya

Suami Betah di Rumah 600




loading...