Hidup Kaya Raya, Mati Masuk Syurga

Hidup Kaya Raya, Mati Masuk Syurga

Sebagian orang mungkin menganggap judul tulisan ini sebagai guyonan belaka : Hidup Kaya Raya, Mati Masuk Syurga. Nyaris tak ada orang menolak menjadi hidup kaya, apalagi ketika meninggal dunia mendapat nikmat syurga di hadapan Tuhan. Ini kebalikan pepatah : Sudah jatuh tertimpa tangga.

Hidup kaya raya tentu dambaan semua orang. Sebagian orang berusaha sekuat tenaga untuk meraih kekayaan, tetapi hasilnya tetap nihil; garis kehidupannya masih berada di bawah garis kemiskinan. Pun ada orang yang berusaha disertai doa, ternyata Tuhan masih berkehendak lain.

Apapun hasilnya, manusia tidak memiliki hak untuk ikut campur tangan. Manusia hanya diperintah berusaha sebaik mungkin. Perkara hasil akhir harus diserahkan kepada Allah. Sesuai janjinya, Allah tidak akan dholim kepada seorang hamba. Takdir yang diberikan Allah selalu berupa keputusan terindah.

Jamil Azzaini dalam buku On mengajak pembaca untuk mengoptimalkan hidup menapaki jalan menuju sukses. Menurut kacamata penulis buku ini, sukses yang dimaksud bukan sekedar sukses yang dinikmati diri sendiri dan keluarga, tetapi sukses yang juga mensejahterakan kehidupan sosial.

Jamil Azzaini selaku penulis buku dan trainer berinisiatif mensejahterakan hidup masyarakat dengan cara mengajak dan mendorong orang lain agar menjadi inspirator bagi yang lainnya, mengkader trainer dan mengkader entrepreneur. Orang-orang yang ia kader tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga berfikir memberdayakan orang lain (hal. 40).

Penulis buku ini berinisiatif memberikan inspirasi kepada 25 juta orang. Ini merupakan sebuah keinginan yang luar biasa. Mungkin ia mengamini betul petuah para sesepuh bahwa menggantung cita-cita harus setinggi langit. Cita-cita itulah yang akan menggerakkan seseorang untuk berusaha semaksimal mungkin.

Usaha menjadi orang sukses harus dilakukan setiap hari. Sebab, setiap hari dunia terus berubah. Inovasi baru terus hadir. Siapa pun yang hanya berjalan di tempat pasti akan tertinggal. Namun demikian, tidak semua yang bergerak dan berubah itu produktif. Sebab, ada pula yang sia-sia dan terjerumus ke dalam kubangan dosa (hal. 110).

Ada satu hal lagi yang perlu dipikirkan. Terkadang, seseorang yang mulai menyibukkan diri dengan urusan duniawi melupakan kehidupan ukhrowi. Saking sibuknya, terkadang ia menomorduakan Tuhan. Padahal, Tuhan adalah maha pengatur kehidupan. Ia yang mengatur dan memberi rezeki. Apa pun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi. Sebaliknya, sesuatu yang tidak dikehendaki Tuhan tidak akan pernah terjadi.

Dalam hal ini, Jamil Azzaini menggunakan istilah kerja ikhlas dan melibatkan Tuhan. Dalam pandangan saya, kerja ikhlas berarti berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan ikut terlibat dalam menentukan hal apa pun. Setiap pekerjaan dan usaha manusia selalu atas pantauan Tuhan. Ketika manusia merasakan hal itu, maka ia akan berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Apakah hal itu sesuai dengan aturan Tuhan atau malah sebaliknya.

Setiap pekerjaan yang baik akan memiliki nilai ibadah. Ini bergantung niat yang tertanam dalam sanubarinya. Ibadah memang bukan hanya dilakukan di tempat ibadah atau saat menjalankan aktivitas ritual. Seluruh sendi kehidupan adalah ibadah, termasuk bekerja. Alangkah naifnya jika sebuah aktivitas yang memiliki nilai ibadah ternyata tidak diniatkan ibadah. Artinya, aktivitas duniawi yang diperbolehkan oleh agama akan memiliki nilai ibadah jika pelakunya menyelipkan niat bahwa hal itu untuk kepentingan ukhrowi. Bukankah ada pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlapaui juga?

Bekerja keras dan cerdas akan menjadikan hidup sejahtera. Tetapi, bekerja dengan cara ikhlas dan diniatkan beribadah kepada sang pencipta akan bernilai ibadah. Buku ini seakan mengajak pembaca agar bisa mengemas hidup bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Bukankah yang paling enak adalah hidup kaya raya dan mati masuk syurga? Siapa pun pasti setuju dengan hal ini.

Resensor: Suhairi Rachmad

buku On karya Jamil Azzaini Mizania, Bandung
Judul Buku : On
Penulis : Jamil Azzaini
Penerbit : Mizania,Bandung
Cetakan: Kedelapan, Februari2014
Tebal : 280 halaman
ISBN : 978-602-9255-48-5

*) Suhairi Rachmad adalah alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Pamekasan Madura.
Kini tinggal di Sumenep Madura