Memaknai Cinta Karena Allah

Memaknai Cinta Karena Allah

Memaknai Cinta Karena Allah

Ada sebuah tulisan yang sering saya ingat ketika saya menjaling hubungan dengan seorang perempuan, tulisan itu berbunyi ‘Cinta karena Allah, adalah apabila kita memutuskan untuk bersama karena Allah dan memutuskan untuk berpisah karena Allah’ sehingga muncullah kepermukaan prinsip hidup ‘jangan takut kehilangan’ , mari bersama menjaga iffah diri dari gunjingan orang-orang yang tak bisa mengendalikan hawa napsunya.

Sebenarnya apabila kita merenungkan secara dalam, tak ada hubungan yang sakral, apabila pelaku cintanya, selalu setiap saat bermaksiat kepada tuhan yang esa, kemaksiatan itu akan melahirkan bintik hitam, yang pada akhirnya akan mengelamkan hati, ketika hati kelam manusia itu akan semakin jauh dari tuhannya dan tak bisa mengendalikan hawa napsunya, benar dikata bahwa urusan cinta adalah urusan hati, dan urusan hati adalah urusan ilahi yang tak pantas kita cemari.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel Abu Anin di Cyber Dakwah ‘Beginilah Mahasiswa Ahlu Sunnah Mengelola keuangannya’, dalam artikel tersebut Abu Anin menyarankan untuk tidak pacaran, telpon-telponan lawan jenis. Ini akan memudorotkan dunia dan akhirat. Harta ludes, prestasi ambruk. Terkadang saat hati nurani menguasai seluruh raga dan jiwa, saya sadar! Namun entah mengapa, saat ego dan hawa napsu yang mengendalikan jiwa da raga ini, semua rambu-rambu seolah mau diterobos, mata hati benar-benar buta tak tau arah bahkan lupa bahwa didepan ada jurang yang sangat dalam.

Secara umum istilah hubungan belakangan ini terbagi dua, ada yang diakui seperti pacara, ada yang tidak diakui semacam hubungan tampa status (HTS), Long Distance Relationship (LDR), Something (STH/Sesuatu), Haus Belaian Lelaki (HBL), Haus Belaian Wanita (HBW), Pemberi Harapan Palsu (PHP), cuman teman, Papi-Mami, Abi-Umi. Padahal semuanya sama-sama tidak halal, maksiat!. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim dan Abu daud dinyatakan bahwa ‘Tidak ada ketaan dalam hal berbuat maksiat akan tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik’. Apapun motif dan namnya semua itu bukan hubungan yang disahkan oleh syariah islam.

Mari Bersama Murnikan Hati
Cinta pra nikah hakikatnya bukanlah sebuah ketulusan, ia seringkali berangkat dari keinginan dan setan sehingga tidak jarang para pengemudinya dibuat kelabakan sehingga butalah mata hati mereka, mereka dibuat lupa akan legal formal (syariah) yang mengatur hubungan mereka dengan lawan jenisnya, cinta sejati adalah cinta yang sudah disahkan secara hukum syariat (pasca nikah), sebab mengumpulinya bukan hanya sekedar untuk melenyapkan gejolak syahwat semata, tetapi bernilai ibadah didalamnya.

Mengelola hati untuk condong pada ketaatan di era digitalisasi ini, memang tidak mudah, tetapi dengan adanya motivasi, upaya dan riyadhah setidaknya kita mampu meminimalisir keconodongan tersebut, menyibukan diri pada hal-hal yang baik, sesuatu yang dilakukan karena Allah ia akan terhubung, dan sesuatu yang dilakukan selain karena Allah ia akan terputus dan Apabila kalian menolong Allah, maka Allah akan menolong kalian. Wallahu A’lam bis shawab. Semoga Bermamfaat.

Penulis
Umar Faruk Fazhay
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam
IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Suami Betah di Rumah 600




loading...